Lila Cita

UK's premier group for Balinese gamelans

home | events | bali arts festival 2006 | CD for sale | which gamelan? | lila bhawa dance company

15.07.2006 Bali Post

Bali Post Sat 15 July 2006

Lila Cita, Cita Inggris dalam Gamelan Bali

Gamelan Bali sudah tersebar di mancanegara. Di luar negeri, salah satu seni karawitan Indonesia ini dimainkan dan dijelajahi keindahan musikalnya oleh berbagai bangsa. Di arena Pesta Kesenian Bali (PKB)terlihat betapa orang-orang asing menunjukkan kebolehannya memainkan gamelan Bali. Tengok misalnya Sabtu (8/7) malam lalu, sekelompok pecinta gamelan dari London, Inggris, menabuh dua barung gamelan, Gong Kebyar dan Semarapagulingan, di Wantilan Taman Budaya Denpasar. Sungguh mencengangkan, mereka terlihat cukup terampil.

JIKA, di Bali sebuah kelompok penabuh biasanya berjenis kelamin sama, namun sekaa gamelan dari Inggris ini campuran pria dan wanita. Mereka menyebut kelompoknya Lila Cita. Memang, mereka tampakna bertandang ke Bali dengan senang hati, suka cita. Betapa mereka yang pada umumnya bukan pemusik ini menabuh gamelan dengan ekspresi yang berseri-seri. Memakai seragam baju berwarna merah hati, kian membersitkan kegirangan hati mereka mencumbu sebuah nilai budaya Bali yang menambat hati.

Grup gamelan Lila Cita yang dipimpin Andy Channing ini mengawali penampilannya dengan tabuh bertajuk "Lila Cita" dengan media Gong Kebyar. Bertempo sedang naik turun, melodi yang mengalir tenang dalam sebuah untaian harmoni, mengekspresikan cita rasa Inggris yang santun dalam ungkapan tulus gamelan Bali. Komposisi yang berdurasi sekitar lima menit ini terasa merupakan representasi ungkapan batin mereka dalam mencintai jagat seni, salah satu musik dunia yaitu gamelan Bali. Setelah sempat mempelajari gamelan Angklung, Grup Gamelan Lila Cita yang bermarkas di London ini, sejak 1997 menggeluti Gong Kebyar. Malam itu mereka mengiringi tari Sekar Jagat, Cendrawasih, dan tari Kebyar Duduk. Tari Sekar Jagat dan Cendrawasih karya cipta Swasthi Widjaja Bandem ini dibawakan oleh para penari andal Bali seperti Nyoman Cipta Wiliawati, Ida Ayu Made Setiawati, Lucia, Era, dan lain-lainnya. Tetapi Kebyar Duduk karya monumental I Mario disajikan oleh seorang wanita Inggris, Melanie Knowles, dengan penuh percaya diri. Kendati tongkrongannya yang agak jangkung kurang ideal untuk tari Bali, tapi ia tampil dengan ekspresif sehingga sempat mengundang tepuk tangan penonton.

Dari ensambel Gong Kebyar, para penabuh Lila Cita ini kemudian berpindah kepada gamelan Semarapagulingan. Lewat gamelan yang bersuara renyah dan merdu ini mereka mengiringi tari Candra Kirana. Suba1i-Sugriwa pragmen Jayaprana, dan tari Babi. Keterampilan para penabuh Inggris ini niemainkan gamelan Bali yang di zaman kerajaan dipakai untuk menciptakan suasana tenteram dan mesra di keraton ini, patut dipuji Sistem tangga nada tujuh nada gamelan ini mampu mereka jelajahi dengan cukup baik. Tari Candra Kirana yang romantis dan pragmen tari Jayapnana yang tragismelankolis yang ditata Pujawati, seorang seniwati Bali alumnus ISI Denpasar, hadir memikat dalam sanggaan iringan Semarapagulingan nan apik.

Lewat Semarapagulingan pula grup gamelan dari daratan Eropa ini menutup penampilannya secara humoris. Tani Babi yang bendurasi sekitar lima menit mengguncang gelak tawa penonton. Tari yang dibawakan secana tunggal oleh seniman I Ketut Suanda yang lebih dikenal sebagai pegiat seni pentunjukan tawa dengan nama Cedil ini, benkisah tentang seekor babi mistenius yang muncul pada suatu malam di sebuah kenaton. Tingkah polah babi yang jenaka dan nakal membuat suasana jadi riang. Para penabuh yang mengiringi dengan memakai kaca mata hitam tampak bermain dengan girang. Penonton terpingkal-pingkal ketika sang babi tenlentang dengan ekornya yang berujung merah terjepit paha menyembul ke atas.

Ini adalah penampilan pertama sebuah grup gamelan dan Inggris di arena PKB. Sebelumnya kelompok gamelan dari Amerika Serikat seperti Sekar Jaya dan grup gamelan dari Jepun separti Sekar Jepun telah beberapa unjuk kemampuan di tengah masyarakat Bali. Padahal Inggris adalah bangsa asing yang paling awal mendatangkan gamelan ke negerinya. Thomas Stamford Raffles, gubernur kolonial Inggris di Jawa (1811-1816) adalah orang pertama yang yang membawa gamelan ke lnggris Raya pada tahun 1816 yaitu dua penangkat gamelan Jawa pelog-slendro. Gamelan Raffles, di Claydon House dan yang di Museum of Mankind di London, hingga kini terawat dengan baik sebagai objek-objek museum yang tak ternilai.

Penkembangan gamelan di Inggnis tak kalah dengan negara-negara yang sudah terlebih dahulu mengimpor musik Indonesia tensebut seperti, Amenika Serikat, Belanda, dan Jepang. Di beberapa universitas di London, gamelan juga sudah dijadikan subjek di departemen musik. Di City University, misalnya, ada tiga jenis gamelan yaitu gamelan Jawa, Bali dan Sunda. Saat ini gamelan juga dapat dipelajari di beberapa universitas tenkenal Inggnis seperti Oxford, Cambridge, Durham, Queens, Dartington dan lainlainnya yang di antaranya ada yang memasukkannya sebagai kunikulum world music.

Susila, seonang komposer Bali yang bolak-balik London-Bali mengajar grup Lila Cita mengangankan pada tahun-tahun mendatang Inggris akan hadir lebih heboh di arena PKB atau di tengah masyanakat Bali. Menurut alumnus ISI Denpasar kelahiran Pagutan, Batubulan ini, harapan itu sangat menjanjikan melihat minat terhadap gamelan, baik dalam konteks ilimiah akademis maupun dalam realita perhatian yang antusias mempelajari gamelan Bali secara praktis tumbuh menggembirakan di sana. Debut grup gamelan Lila Cita di forum PKB tahun 2006 ini, bukan tak mungkin akan diikuti oleh grup-grup gamelan Inggris lainnya.

By Kadek Suartaya